Ambarawa, suaragardanasional.com | Di balik kokohnya dinding sejarah Benteng Willem I (Benteng Pendem), Ambarawa, sebuah gerakan “mercusuar” seni sedang dibangun. Sanggar Kemerincing, di bawah naungan Javayo Productions, membuktikan bahwa belajar tari tradisional bukan sekadar menghafal gerakan, melainkan upaya membentuk mentalitas generasi muda agar tidak menjadi pribadi yang congkak dan sombong.
Anak - anak dudik Sanggar Kemrincing diharapkan tidak hanya 'cerdas berkesenian' tapi juga "cerdas secara mental".
Ratusan anak dari berbagai jenjang usia berkumpul di Graha Mandala Cipta untuk mengikuti agenda Character Building yang dikemas dalam kegiatan Outing Class, Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari penutupan semester yang dirancang khusus untuk memperkuat kepribadian para penari muda.
Membangun “Benteng” Mental di Kota Tua
Awig dari Javayo Productions mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dunia seni saat ini adalah godaan sikap buruk yang sering menerpa para seniman berpotensi, godaan-godaan inilah yang sering mengahancurkan karier. Dalam berkesenian. Melalui program pembentukan karakter (character building) ini, anak-anak diajarkan untuk memiliki skill mumpuni sekaligus mentalitas yang santun sebelum benar-benar terjun ke masyarakat.
“Harapannya, anak-anak ini tidak cuma punya teknik tari yang bagus, tapi juga mental yang kuat. Dunia seni banyak godaan, kita tidak ingin mereka jadi sombong atau congkak, atau terjerumus dalam kegiatan negatif lain nantinya” jelas Awig saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Kegiatan ini melibatkan sekitar 100 peserta untuk kategori pemula dan tingkat dasar, sementara kelas yang lebih besar akan menyusul pada pertengahan Februari. Dengan total sekitar 200 anggota, Sanggar Kemerincing kini menjadi barometer baru kesenian di Kabupaten Semarang.
Integrasi Sejarah dan Kreativitas Lokal
Penggunaan Benteng Willem I sebagai pusat latihan bukan tanpa alasan. Para seniman lokal berharap kawasan cagar budaya ini tidak hanya dikenal sebagai objek wisata sejarah statis, tetapi juga menjadi pusat kebudayaan yang hidup.
“Kami ingin Benteng ini jadi wadah kreasi. Selama ini seniman sering resah karena minimnya tempat yang representatif. Di sini, dengan diaediakannya tempat bernama Grha Mandala Cipta; sejarah dan seni tari akan bersinergi,” tambahnya. Di bawah asuhan pelatih Inno Sanjaya dan tim, anak-anak berlatih secara rutin dua kali seminggu, mencakup materi tari hingga gamelan.
Membuka Peluang Lewat Beasiswa Seni
Meski operasional sanggar dijalankan secara mandiri melalui iuran swadaya masyarakat sebesar Rp100.000 per bulan, pengelola mengakui masih banyak orang tua yang merasa keberatan. Sebagai solusi out of the box, Sanggar Kemerincing kini sedang menggalang donatur untuk program beasiswa seni.
“Kami mencari ‘ibu angkat’ atau donatur agar anak-anak dari semua kalangan bisa belajar tari tanpa terkendala biaya,” pungkas Awig. Dengan rencana pembukaan pendaftaran baru tahun depan, Sanggar Kemerincing diproyeksikan akan terus tumbuh menjadi embrio pusat kesenian spektakuler di Jawa Tengah.(BP)



