Habis Gelap Terbitlah Terang: Menemukan Cahaya Jati Diri di Balik Perayaan Hari Kartini ke-147

 

JEPARA, suaragardanasional.com | Momentum Hari Kartini 147,Angka 147 bukan sekadar deretan digit dalam kalender sejarah. Bagi perempuan masa kini, peringatan Hari Kartini tahun ini seharusnya bukan lagi tentang riuhnya upacara bendera, anggunnya balutan kebaya,atau simbol-simbol lahiriah yang selama ini melekat.Lebih dari itu,ini adalah alarm spiritual untuk berhenti sejenak dan bertanya: "Sudahkah kita merdeka sebagai Jiwa?"


Esensi dari perjuangan Kartini seringkali terhenti pada narasi emansipasi. Padahal,jika kita menyelami lebih dalam pemikiran beliau terutama yang tertuang dalam Habis Gelap Terbitlah Terang,ada panggilan kuat untuk melakukan perjalanan ke dalam diri (*inner journey*).Kartini mengajak kita menyadari bahwa kegelapan yang sesungguhnya adalah ketidaktahuan akan jati diri,dan cahaya ("Terang") adalah pencerahan saat kita berhasil mengenali siapa diri kita sebenarnya di hadapan Sang Pencipta.

Kembali ke Fitrah: Jiwa yang Merdeka.


Perempuan masa kini hidup dalam lintasan zaman yang serba cepat, namun seringkali terjebak dalam tuntutan eksternal yang melelahkan.Kembali ke fitrah berarti menyadari bahwa setiap perempuan adalah entitas jiwa yang memiliki energi besar, energi yang melampaui batasan ruang waktu.


Sejatinya,pencerahan tidak ditemukan di panggung- panggung perayaan, melainkan dalam keheningan saat kita mampu "pulang" ke dalam diri sendiri.Dalam filosofi yang mendalam, pengenalan diri adalah kunci keselamatan.Sebab, setiap makhluk yang bernyawa pada akhirnya akan kembali kepada Sang Maha.Maka,mengenal diri sebelum "kembali" menjadi sebuah keharusan agar langkah kita di dunia tetap berpijak pada nilai-nilai keabadian.


Mencipta Damai dalam Keselarasan Semesta.

Satu pesan kuat yang bergema dari semangat Kartini adalah keberanian untuk menjadi berbeda.Di dunia yang seringkali memaksa kita untuk seragam,Kartini mengingatkan bahwa:


Bahagia tidak ditentukan oleh standar sosial. Sukses bukan sekadar pencapaian materi.Damai,adalah hasil dari ciptaan batin kita sendiri.Menjadi perempuan yang sadar secara spiritual berarti berani melangkah maju dengan keyakinan bahwa kita adalah kreator bagi realitas kita sendiri. Perubahan yang sesungguhnya terjadi ketika tindakan kita selaras dengan hukum semesta alam,penuh cinta, kasih,dan harmoni.


Mari kita jadikan momentum ke-147 ini sebagai titik balik. Lepaskan sejenak atribut formalitas,dan mulailah merenung.Mari menjadi Kartini yang baru, perempuan yang tidak hanya cerdas secara intelektual,tetapi juga bercahaya secara spiritual. Teruslah melangkah, ciptakan perubahan, dan jadilah mercusuar bagi diri sendiri dan sesama.


Kartini bukan sosok, Kartini adalah energy ilahi yang hadir pada masanya. Sosok tidak abadi,Energy Ilahi,abadi.


(Hani K)

Tags

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top