HUT Jepara ke-477 Kerja Tulus,Wujudkan Jepara Mulus,Kirab Luwur hingga Ogoh-Ogoh

 

Ketua penyelenggara, Ali Hidayat, menyampaikan bahwa tema HUT Jepara tahun ini adalah “Kerja Tulus Wujudkan Jepara Mulus

Jepara, suaragardanasional.com | Perayaan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara pada Kamis, 9 April 2026, menghadirkan rangkaian kegiatan budaya dan religi yang sarat makna. Beragam tradisi sakral hingga inovasi budaya ditampilkan dalam satu hari penuh, memunculkan pertanyaan menarik: apakah ini sekadar tradisi tahunan, atau wajah baru Jepara yang semakin inklusif dan berkarakter?


Kegiatan dimulai pukul 13.00 WIB dengan pertunjukan sendratari kolosal yang mengangkat kisah kepahlawanan Ratu Kalinyamat di Pendopo R.A. Kartini. Pentas ini bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi media edukasi sejarah yang menghidupkan kembali semangat perjuangan dan keberanian tokoh perempuan legendaris Jepara.


Tak berselang lama, pukul 13.30 WIB, prosesi sakral Kirab Luwur digelar. Tradisi ini merupakan ritual penggantian kain penutup makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat, yang diawali dari Pendopo Kabupaten menuju Masjid Mantingan. Prosesi ini menjadi simbol penghormatan mendalam terhadap leluhur sekaligus pelestarian tradisi spiritual masyarakat Jepara.


Menariknya, kirab tahun ini menghadirkan nuansa berbeda. Selain pawai budaya yang melibatkan tokoh daerah, untuk pertama kalinya ditampilkan arak-arakan ogoh-ogoh setinggi 2,5 meter. Kehadiran ogoh-ogoh ini menjadi simbol kuat kerukunan antarumat beragama, sekaligus penanda keterbukaan budaya di Jepara yang terus berkembang.


Setibanya di Masjid Astana Mantingan sekitar pukul 15.00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan santunan anak yatim dan khotmil Qur’an. Momentum ini menegaskan bahwa perayaan hari jadi tidak hanya berfokus pada seremoni budaya, tetapi juga mengandung nilai kepedulian sosial dan religius yang kuat.


Ketua penyelenggara, Ali Hidayat, menyampaikan bahwa tema HUT Jepara tahun ini adalah “Kerja Tulus Wujudkan Jepara Mulus” (Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius) kerja melayani, penuh pengabdian. 


Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk memperkuat identitas Jepara sebagai daerah yang tidak hanya kaya budaya, tetapi juga menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan spiritualitas.


“Perpaduan budaya dan religi ini menjadi kekuatan Jepara. Kita ingin masyarakat tidak hanya merayakan, tetapi juga memahami makna di balik setiap tradisi,” ujarnya.


Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan HUT Jepara ke-477 yang berlangsung selama tiga hari, 8–10 April 2026. Puncak perayaan akan digelar pada Jumat, 10 April 2026, melalui upacara resmi Hari Jadi dan pertunjukan wayang kulit.


Dengan perpaduan tradisi sakral, inovasi budaya, dan nilai sosial, perayaan tahun ini menghadirkan wajah Jepara yang tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga berani bertransformasi mengikuti zaman.


Pertanyaannya kini: apakah semangat budaya dan kerukunan ini akan terus hidup setelah perayaan usai, atau hanya menjadi euforia sesaat?.


(Hani K)

Tags

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top