Jepara, suaragardanasional.com | Di balik pesona eksotis Kepulauan Karimunjawa yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terindah di Indonesia, tersimpan persoalan mendasar yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Petinggi Desa Karimunjawa, Arif Setiawan, menyuarakan keluhan sekaligus harapan besar bagi masa depan wilayah kepulauan Karimunjawa yang menjadi bagian dari Kabupaten Jepara tersebut.
Dikenal sebagai sosok yang tidak banyak bicara namun bekerja nyata, Arif Setiawan terus berupaya mendorong kemajuan desanya dengan penuh dedikasi. Desa Karimunjawa sendiri merupakan pusat pemerintahan di Kecamatan Karimunjawa, yang terdiri dari empat desa, yakni Desa Karimunjawa, Kemujan, Parang, dan Nyamuk—dengan dua desa terakhir berada di pulau terpisah dan terluar.
Dalam keterangannya saat ditemui pada Minggu (5/4/2026), Arif mengungkapkan bahwa perkembangan sektor pariwisata memang memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Namun, di sisi lain, masih terdapat persoalan mendasar yang menjadi pekerjaan rumah serius, terutama terkait ketersediaan air bersih.
"Pariwisata terus berkembang, tapi kebutuhan dasar seperti air bersih masih menjadi tantangan besar, terutama saat musim kemarau,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama ini warga Karimunjawa sangat bergantung pada sumber air dari Legon Lele yang dikelola oleh PDAM Jepara. Saat musim kemarau tiba, krisis air bersih menjadi persoalan rutin yang harus dihadapi masyarakat. Pemerintah melalui BPBD kerap melakukan dropping air, namun solusi tersebut dinilai masih bersifat sementara.
Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan lembaga riset seperti BRIN untuk mencari solusi jangka panjang. Selain itu, sebagian wilayah juga mulai menerapkan teknologi penyaringan air guna memenuhi kebutuhan sanitasi.
Namun, persoalan tidak berhenti di situ. Arif juga menyoroti keterbatasan layanan dasar lainnya, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan.
Untuk pendidikan, fasilitas dari tingkat SD hingga SLTA dinilai masih perlu peningkatan, baik dari segi sarana maupun kualitas. Sementara di sektor kesehatan, kondisi lebih memprihatinkan.
“Dari empat desa di Kecamatan Karimunjawa, baru ada satu Puskesmas. Jumlah tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan bidan juga masih jauh dari ideal dibanding jumlah penduduk,” jelasnya.
Meski demikian, Arif tetap optimis bahwa dengan perhatian dan dukungan yang lebih serius dari pemerintah daerah maupun pusat, Karimunjawa dapat berkembang tidak hanya sebagai destinasi wisata unggulan, tetapi juga sebagai wilayah yang layak huni dengan fasilitas yang memadai.
Kisah Karimunjawa hari ini adalah potret nyata tentang dua sisi yang berjalan beriringan: keindahan alam yang mendunia dan perjuangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar. Harapan pun menggema dari pulau-pulau terluar—agar pembangunan tidak hanya terpusat di daratan utama, tetapi juga menyentuh wilayah kepulauan secara adil dan berkelanjutan.
(Hani K)

