Sedekah Bumi 2026,Pagelaran Wayang Kulit Digelar DiDesa Kecapi Dengan Lakon Semar Bangun Desa

 

Jepara, suaragardanasional.com | Adat  Istiadat serta Tradisi sedekah bumi yang  turun-temurun di desa Kecapi,kembali  menyelenggarakan pagelaran wayang kulit dengan Lakon Semar Bangun Desa  bersama dalang   Ki Dalang Syarif Gondo Carito dari desa Suwawal Barat, Kecamatan Tahunan, bukan sekadar ritual budaya, tetapi menjadi simbol kuat rasa syukur, persatuan warga, dan doa kolektif untuk keselamatan serta kemakmuran desa Khususnya desa Kecapi


Pagelaran wayang digelar dengan khidmat dan meriah pada Selasa (5/5/2026) di halaman desa. Kegiatan ini merupakan warisan leluhur yang adiluhung,wajib terus kita jaga sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi, sekaligus penghormatan terhadap alam semesta untuk mewujudkan desa yang gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem. 


Kepala Desa Kecapi, Sukambali, menegaskan bahwa sedekah bumi bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan mengandung nilai spiritual dan sosial yang mendalam.


“Ini adalah wujud syukur masyarakat atas rezeki yang diberikan Tuhan, sekaligus doa bersama agar desa Kecapi selalu diberi keselamatan, kemakmuran, dan dijauhkan dari segala musibah di masa mendatang,” ujarnya.



Tradisi Leluhur yang Terus Hidup


Sedekah bumi di Desa Kecapi telah berlangsung secara turun-temurun, berakar dari budaya Jawa yang sarat nilai kearifan lokal. Selain sebagai bentuk spiritualitas, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga, memperkuat rasa kebersamaan, dan menjaga harmoni sosial.


Rangkaian kegiatan meliputi :


Arak-arakan gunungan hasil bumi.


Sedekah makanan.


Pertunjukan seni budaya.


Pagelaran wayang kulit (Ringgit Purwo).


Tradisi ini biasanya dilaksanakan setahun sekali, mengikuti penanggalan Jawa, dan kini juga mulai didorong sebagai ikon wisata budaya desa yang berpotensi menarik perhatian publik lebih luas.



“Semar Mbangun Desa”: Cermin Kepemimpinan dan Kehidupan


Pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Syarif Gondo Carito yang mengangkat lakon “Semar Mbangun Desa”.yang merupakan rangkaian rangkaian acara sedekah bumi desa Kecapi.


Lakon ini bukan sekadar hiburan, tetapi sarat pesan moral dan filosofi kehidupan. Semar digambarkan sebagai sosok pamomong rakyat yang membangun desa Kadempel bukan dari fisik semata, melainkan dari akhlak, kesadaran, dan nilai kehidupan masyarakat :


Cerita ini menegaskan bahwa:


Desa akan makmur jika pemimpin dan rakyat menyatu


Kepemimpinan sejati adalah asah, asih, asuh


Kesejahteraan lahir dari keadilan dan kepedulian


Tokoh punakawan seperti Gareng, Petruk, dan Bagong turut menjadi simbol suara rakyat—jujur, kritis, dan mengingatkan penguasa agar tetap berpihak pada kepentingan bersama.




Makna Lebih Dalam: Dari Ritual Menuju Kesadaran


Lebih dari sekadar tradisi, sedekah bumi di Desa Kecapi menjadi refleksi bahwa pembangunan sejati dimulai dari kesadaran moral dan kebersamaan masyarakat.


Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya antara lain :


Syukur sebagai fondasi kehidupan.


Gotong royong sebagai kekuatan desa.


Spiritualitas sebagai penjaga keseimbangan hidup.


Budaya sebagai identitas yang harus dilestarikan.


Di tengah arus modernisasi, Desa Kecapi menunjukkan bahwa tradisi bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dijaga, dimaknai, dan dijadikan kekuatan membangun masa depan.


Pagelaran Ringgit Purwo dan sedekah bumi bukan hanya perayaan budaya—

melainkan doa yang hidup, persatuan yang nyata, dan harapan yang terus dijaga oleh masyarakat Kecapi.


(Hani K)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top