Jepara, suaragardanasional.com | Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 H bukan sekadar pergantian kalender hijriyah, melainkan momentum refleksi dan transformasi sosial. Dalam sejarah Islam, hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah menandai lahirnya peradaban baru yang dibangun di atas fondasi persaudaraan, keadilan, kemandirian ekonomi, dan tata kehidupan yang berkeadaban. Karena itu, hijrah harus dimaknai sebagai perpindahan dari kondisi yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih bermanfaat dan bermartabat. Pemaknaan ini sejalan dengan konsep social transformation dalam Islam yang menempatkan agama sebagai motor perubahan sosial dan pembangunan peradaban.
Bagi masyarakat Kudus, semangat hijrah menemukan relevansinya dalam filosofi warisan berbudi luhur yang mengandung nilai etika, intelektualitas, dan kemandirian ekonomi. merupakan akronim dari Bagus (berakhlak mulia), Ngaji (mencintai ilmu), dan Dagang (mandiri dan produktif secara ekonomi). Filosofi ini telah membentuk identitas masyarakat Kudus sebagai masyarakat religius sekaligus entrepreneur yang memiliki etos kerja tinggi dan solidaritas sosial yang kuat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur berkontribusi dalam pembentukan karakter kewirausahaan masyarakat Kudus dan menjadi modal sosial penting bagi pembangunan.
Momentum hijrah juga dapat dibaca melalui spirit kehidupan Raden Mas Panji Sosrokartono, seorang intelektual besar Nusantara yang menguasai berbagai bahasa dunia dan dikenal sebagai humanis serta pejuang kemanusiaan. Puncak kebesaran Sosrokartono justru tampak ketika ia kembali mengabdikan ilmu dan hidupnya bagi rakyat kecil. Hijrah ala Sosrokartono bukanlah perpindahan geografis, melainkan transformasi orientasi hidup dari prestise menuju pengabdian, dari individualisme menuju kemaslahatan sosial. Perspektif ini sejalan dengan teori servant leadership yang menempatkan pelayanan kepada sesama sebagai puncak kepemimpinan dan kebermakna.
Dalam konteks kekinian, semangat hijrah masyarakat perlu diterjemahkan menjadi gerakan kebangkitan peradaban berbasis pertanian, ekologi, kewirausahaan, dan kepedulian kemanusiaan. Pertama, hijrah menuju cinta kasih,Pertanian tidak hanya dipahami sebagai sektor ekonomi, melainkan sebagai jalan menuju kedaulatan pangan dan kesejahteraan masyarakat desa. Organisasi Pangan Dunia (FAO) menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama ketahanan sosial dan pembangunan berkelanjutan. Dalam perspektif Islam, menghidupkan tanah dan memakmurkan bumi (i'mar al-ardh) merupakan bagian dari amanah kekhalifahan manusia di muka bumi.
Kedua, hijrah menuju cinta ekologi. Krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan menurunnya kualitas sumber daya alam menuntut lahirnya kesadaran ekologis baru. Yang mengajarkan prinsip keseimbangan (mizan) dan larangan berbuat kerusakan (fasad fil ardh). Karena itu, menjaga tanah, air, hutan, dan keanekaragaman hayati merupakan bagian dari ibadah sosial dan tanggung jawab keagamaan. Penelitian mengenai etika lingkungan Islam menunjukkan bahwa konservasi alam merupakan implementasi konkret dari maqashid syariah dalam menjaga keberlangsungan kehidupan.
Ketiga, hijrah menuju cinta wirausaha. Filosofi "Gang" dalam Gusjigang mengajarkan pentingnya kemandirian ekonomi dan produktivitas. Kewirausahaan tidak hanya berorientasi pada keuntungan pribadi, tetapi juga penciptaan nilai sosial, pemerataan kesejahteraan, dan pembukaan lapangan kerja. Studi mengenai kewirausahaan Islam menunjukkan bahwa semangat berdagang yang dilandasi etika dan kebermanfaatan sosial mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat dan mengurangi kesenjangan sosial.
Keempat, hijrah menuju kepedulian kemanusiaan. Spirit Sosrokartono mengajarkan bahwa ilmu dan kekayaan menemukan maknanya ketika dipersembahkan bagi kemaslahatan sesama. Kepedulian terhadap fakir miskin, anak yatim, kelompok rentan atau lansia dan masyarakat yang termarginalkan merupakan manifestasi dari nilai rahmatan lil alamin. Robert Putnam (2000) menjelaskan bahwa modal sosial berupa solidaritas, gotong royong, dan kepercayaan sosial merupakan faktor penting dalam membangun masyarakat yang tangguh dan sejahtera.
Oleh karena itu, semarak 1 Muharam hendaknya tidak berhenti pada seremoni dan perayaan simbolik semata. Tahun Baru Hijriyah harus menjadi titik tolak hijrah peradaban: memperkuat akhlak, memperdalam ilmu, membangun ekonomi yang mandiri, menghidupkan pertanian dan ekologi, serta memperluas gerakan kemanusiaan. Inilah menjadi spririt baru ber kesadaran, yakni kebangkitan masyarakat yang berakar pada filosofi Gusjigang dan jiwa pengabdian Sosrokartono. Hijrah sejati adalah ketika ilmu menjadi cahaya, ekonomi menjadi sarana kemaslahatan, alam terjaga kelestariannya, dan kemanusiaan menjadi orientasi utama pembangunan peradaban baru yang berintegritas.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 H. Semoga kita semakin sadar dan tahu diri dalam hijrah menuju peradaban yang beriman, berilmu, berdaya secara ekonomi, mencintai pertanian dan lingkungan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat dan kemanusiaan semesta.
(Hani K)

