Setelah Uji Lab Bongkar Dugaan Keracunan MBG Jepara: Salmonella Ditemukan, 123 Siswa dan Guru Jadi Korban

JEPARA, suaragardanasional.com | Misteri dugaan keracunan massal yang menimpa 110 siswa dan 13 guru SMP Negeri 2 Jepara mulai menemukan titik terang. Hasil pengujian laboratorium terhadap bank sampel makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Bandengan 05 mengungkap adanya temuan bakteri yang berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan. (14/08/2026).  


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, H. Hadi Sarwoko, SKM., M.MKes., M.M., menyampaikan bahwa pengujian dilakukan oleh UPTD Laboratorium Kesehatan (Labkes) Jepara terhadap sampel makanan yang disimpan di freezer pada periode 4 hingga 7 Agustus 2026.


Hasilnya menunjukkan bahwa tidak semua menu bermasalah. Sampel nasi putih, tempe goreng, serta labu siam wortel bumbu kuning dinyatakan tidak ditemukan bakteri yang diuji.


Namun, temuan berbeda muncul pada menu beef teriyaki. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, makanan tersebut diketahui mengandung Enterobacteriaceae dan Salmonella sp, bakteri yang dikenal sebagai penyebab gangguan saluran pencernaan dan keracunan makanan.


Tidak hanya itu, sampel semangka juga ditemukan mengandung Bacillus cereus dan Enterobacteriaceae, yang dapat memicu gangguan pencernaan. Bahkan pada sampel buah tersebut juga ditemukan yeast dan mold atau jamur yang menjadi indikator penurunan kualitas pangan dan dapat mempercepat proses pembusukan makanan.


Temuan lain yang tak kalah penting berasal dari pengujian air bersih pada bak pencucian, yang menunjukkan adanya bakteri Coliform. Keberadaan bakteri ini sering digunakan sebagai indikator sanitasi lingkungan karena hidup di tanah, air, maupun saluran pencernaan manusia dan hewan.

Kasus yang mengakibatkan ratusan siswa dan guru mengalami mual, muntah, pusing, sakit perut hingga diare itu kini menjadi perhatian serius publik. Hasil laboratorium tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai pengawasan mutu bahan pangan, proses pengolahan makanan, sanitasi peralatan, hingga sistem distribusi MBG sebelum dikonsumsi para siswa.


Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa program penyediaan makanan bergizi tidak hanya dituntut memenuhi aspek kecukupan gizi, tetapi juga harus menjamin keamanan pangan secara menyeluruh. Satu titik kelalaian dalam rantai produksi dapat berujung pada risiko kesehatan bagi ratusan penerima manfaat.


Masyarakat kini menunggu langkah lanjutan dari pemerintah dan pihak terkait untuk mengungkap secara menyeluruh sumber kontaminasi, memastikan pertanggungjawaban pihak yang terlibat apabila ditemukan unsur kelalaian, serta memperkuat pengawasan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.


Kasus dugaan keracunan MBG SMPN 2 Jepara bukan sekadar insiden biasa. Ini adalah peringatan bahwa keamanan pangan di lingkungan pendidikan harus menjadi prioritas utama, karena menyangkut kesehatan dan keselamatan generasi muda yang menjadi harapan bangsa..


(Hani K)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top