Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Dihadiri 500 Jamaah

 

Kabupaten Semarang, suaragardanasional.com | Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Syekh Abdul Qadir Al-Jailani QSA digelar khidmat di Jalan Semarang–Surakarta No.18, Kutan, Randugunting, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026).


Kegiatan keagamaan tersebut dihadiri sekitar 500 jamaah dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Para jamaah berasal dari sejumlah wilayah yang tergabung dalam Majelis Dzikir Al Arif, yang selama ini telah berkembang dan tersebar di berbagai daerah.


Di antaranya jamaah wilayah Jatijajar yang dipimpin Chabib Sholeh, Kalijeruk–Lemah Ireng dipimpin Riyanto, Kali Jamak–Doplang dipimpin Widomo, Klaten dipimpin Wasit Rohmadi, Semarang dipimpin Mariyanto, Purwodadi dipimpin Dariyadi, Kudus dipimpin Arwani, Bawen dipimpin Rusmanto, serta Derekan–Pringapus yang dipimpin Joko Setiono. Jamaah Yasinan Kebonan, Randugunting, juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.


Rangkaian acara diawali dengan pembukaan oleh Ustaz Widomo, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Ustaz Nurcholis. Seluruh rangkaian kegiatan turut diiringi lantunan Hadroh Al Islah dari Derekan, Pringapus.


Ketua panitia, Rusmanto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh jamaah yang hadir dari berbagai wilayah. Kehadiran ratusan jamaah menjadi bagian dari semangat mempererat silaturahmi sekaligus menghidupkan tradisi keagamaan melalui Maulid Nabi dan Haul.

Setelah sambutan panitia, acara dilanjutkan dengan pembacaan Al-Barzanji oleh Hadroh Al Islah. Suasana semakin khidmat ketika jamaah mengikuti pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang disampaikan oleh Gus Hanif Surya Ramadhan.


Dalam penyampaiannya, manaqib tidak sekadar dipahami sebagai kisah perjalanan seorang tokoh, tetapi juga sebagai sarana mengambil pelajaran dari ilmu, perjuangan, akhlak dan keteladanan.


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dikenal luas dalam tradisi Islam sebagai ulama, ahli fikih Hanbali, pendakwah dan tokoh sufi yang kemudian menjadi nisbah bagi Tarekat Qadiriyah. Beliau lahir di wilayah Jilan sekitar 470/471 H atau 1077/1078 M, kemudian menuntut ilmu di Baghdad dan wafat pada 561 H/1166 M.


Sejumlah nilai keteladanan yang disampaikan dalam manaqib antara lain ketekunan dalam menuntut ilmu, kezuhudan, kesungguhan beribadah, dakwah dan pendidikan, pentingnya ilmu sebelum beramal, serta kepedulian terhadap masyarakat.


Manaqib juga menjadi pengingat bahwa keteladanan seorang ulama tidak hanya dilihat dari kisah-kisah karamah, tetapi terutama dari ilmu, akhlak, perjuangan dan pengabdiannya kepada masyarakat.


Pesan tersebut kemudian menjadi pengantar menuju mauidhoh hasanah yang disampaikan Mursyid Majelis Dzikir Al Arif, Syekh Abdullah Abbas bin Muhammad Fatikin Abbas.


Dalam tausiyahnya, Syekh Abdullah Abbas mengajak jamaah untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan tetap berikhtiar dan menggantungkan harapan kepada Allah SWT.


Ia mengingatkan bahwa persoalan ekonomi, kebutuhan keluarga, biaya pendidikan anak, pekerjaan hingga persoalan sosial merupakan bagian dari dinamika kehidupan yang harus dihadapi dengan kesabaran, usaha dan doa.


Mengutip Surah Al-Insyirah ayat 7–8, Mursyid menyampaikan:

"Fa idza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab."

Artinya, apabila seseorang telah menyelesaikan suatu urusan, hendaknya tetap bersungguh-sungguh dalam urusan berikutnya dan hanya kepada Allah SWT tempat menggantungkan harapan.


Menurutnya, manusia tetap diperintahkan untuk bekerja keras mencari rezeki, membangun usaha dan mengejar cita-cita. Namun, usaha tersebut tidak boleh membuat hati sepenuhnya bergantung kepada pekerjaan, uang, jabatan maupun manusia.


Selain persoalan ikhtiar dan tawakal, jamaah juga diajak menjaga kesehatan sebagai bentuk amanah dari Allah SWT. Menjaga pola makan, memberikan waktu istirahat yang cukup dan tidak memaksakan tubuh secara berlebihan menjadi bagian dari upaya menjaga amanah tersebut.

Perhatian khusus juga diberikan terhadap kehidupan keluarga.

Orang tua, menurut pesan tausiyah tersebut, memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak. Anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari.


Cara ayah berbicara kepada ibu, demikian pula sebaliknya, menjadi contoh yang secara langsung direkam oleh anak. Karena itu, pasangan suami istri diingatkan untuk tidak menjadikan rumah tangga sebagai ruang untuk saling menyalahkan.


"Yang harus dicari bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana keluarga tetap utuh dan anak-anak mendapatkan lingkungan yang baik," menjadi salah satu pesan penting dalam tausiyah tersebut.


Setelah mauidhoh hasanah, kegiatan dilanjutkan dengan dzikir bersama yang diikuti seluruh jamaah. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan makan bersama sebagai momentum mempererat silaturahmi antarjamaah.


Untuk memastikan kegiatan berjalan tertib dan aman, pengamanan melibatkan LSM Garda Nasional, PSHT Rayon Jatijajar, Hansip wilayah Kebonan, serta Banser Ranting Jatijajar.


Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tersebut tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan tokoh ulama dan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan penguatan nilai keagamaan melalui ilmu, ibadah, akhlak, keluarga serta kepedulian terhadap sesama.(SA)

Tags

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top