BIOGRAFI WONG KITO Achmad Bastari (1910–1992), Mantan Gubernur Sumatera Selatan Periode 1959–1963

 

PALEMBANG, suaragardanasional.com | Dari tanah Komering yang teduh di Campang Tiga, Ogan Komering Ulu, lahirlah seorang putra daerah yang kelak menorehkan jejak panjang dalam sejarah perjuangan dan pembangunan Sumatera Selatan. Dialah Achmad Bastari sang prajurit hukum, pejuang republik, dan pemimpin “Wong Kito” yang menapaki perjalanan hidupnya dengan semangat pengabdian tanpa jeda.


Lahir pada 3 Syawal 1910 (kemudian tercatat 3 Oktober 1912 saat masuk sekolah), Bastari tumbuh dari darah kepemimpinan adat. Kakeknya, Mohammad Lanang gelar Alampak, adalah Kerio Campang Tiga sekaligus saudagar tangguh. Ayahnya, Ahmad Daud gelar Nata Diraja, dikenal sebagai Guru Daud pendidik sekaligus pemuka masyarakat. Dari sanalah nilai kepemimpinan dan keberanian diwariskan.


Benih Perlawanan Sejak Bangku Sekolah.

Mengenyam pendidikan HIS di Palembang sejak 1920, Bastari telah menunjukkan gelora kebangsaan. Di kelas tujuh, ia mendirikan “Partai Kelas Tujuh” dan menerbitkan selebaran mingguan yang berisi kritik tajam terhadap pemerintah kolonial. Semangat itu berlanjut saat menempuh MULO di Palembang dan Batavia, aktif dalam organisasi Pandu Pemuda Sumatera, Kepanduan Bangsa Indonesia, dan Indonesia Muda.


Di Bandung, ketika belajar di Mosvia, ia menjadi Wakil Ketua Indonesia Muda cabang setempat. Aktivisme politiknya nyaris membuatnya dikeluarkan. Namun ancaman tak pernah memadamkan bara nasionalisme dalam dirinya.


Dari Meja Administrasi ke Medan Perjuangan.

Kariernya sebagai pegawai negeri dimulai tahun 1935 di Baturaja. Namun sejarah membawanya ke pusaran revolusi. Saat Jepang datang, Bastari beralih menjadi perwira polisi dengan pangkat Keibu, lalu menempuh pendidikan tinggi kepolisian di Padang.


Selepas Proklamasi, ia memegang tanggung jawab besar sebagai Kepala Polisi di berbagai wilayah Sumatera. Ditunjuk oleh Dr. A.K. Gani sebagai Kepala Polisi Negara Sumatera Utara dan Timur, ia sempat ditahan Belanda setelah Perjanjian Linggarjati dilanggar.


Tak menyerah, Bastari bergerilya di Lampung dan Jambi. Di pedalaman Muara Tebo, ia turut menggerakkan pemerintahan darurat dan percetakan “Uang Hitam Jambi”, simbol daya hidup republik di tengah kepungan agresi. Ia menjadi Administratur Keuangan dan Percetakan Negara dalam situasi serba terbatas, namun penuh keberanian.


Membangun Ketertiban, Menegakkan Negara.

Pasca revolusi, Bastari dipercaya menjadi Kepala Polisi Provinsi Sumatera Tengah, lalu memimpin bagian Hukum di Markas Besar Kepolisian Negara. Ia bahkan menimba ilmu di Hendon Police College, London, memperluas wawasan profesionalnya hingga Eropa.


Sebagai Kepala Polisi Jawa Tengah dan Yogyakarta (1954–1960), ia menghadapi berbagai gejolak: pemberontakan MMC Merapi-Merbabu, gerakan DI/TII Kartosuwiryo, hingga eks Tentara Pelajar. Dengan pembinaan intensif, ia membentuk Mobile Brigade yang tangguh, cikal bakal kekuatan respons cepat kepolisian.


Namun pengabdiannya tak melulu soal keamanan. Ia membangun koperasi polisi, fasilitas rehabilitasi paru-paru di Ngawen, balai peristirahatan di Tawangmangu dan Bandungan, serta mendorong prestasi olahraga kepolisian hingga bertanding ke Melbourne saat Olimpiade.


Gubernur Pembangunan Wong Kito.

Tahun 1959, DPRD Sumatera Selatan memilihnya secara mutlak sebagai Gubernur. Di masa inilah jejak pembangunan monumental ditorehkan.


Ia turut memfasilitasi berdirinya PT Pupuk Sriwijaya (PUSRI), membantu penimbunan lahan rawa dengan pengerukan Sungai Musi. Bersama tokoh daerah, ia mendorong berdirinya Universitas Sriwijaya dan IAIN Raden Patah.


Yang paling dikenang, Bastari mendesak Presiden Sukarno agar dana pampasan perang Jepang sebesar 25 juta dolar AS dialokasikan untuk membangun jembatan penghubung Sungai Musi. Jembatan itu kini dikenal sebagai Jembatan Ampera, ikon kebanggaan Palembang dan simbol kemajuan Wong Kito.


Pengabdian Tanpa Henti.

Pensiun pada 1968 dengan pangkat Inspektur Jenderal Polisi (Purn.), Bastari tak berhenti mengabdi. Ia aktif di MPRS, LVRI, Pepabri, PMI, KADIN, hingga organisasi perkayuan dan karet. Ia ikut membangun RS Siti Khadijah dan memperjuangkan pengakuan Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai Pahlawan Nasional.

Hingga akhir hayatnya pada 13 Oktober 1992, ia tetap menulis, berceramah, dan menghadiri seminar pembangunan serta adat. Sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di Puncak Sekuning, Palembang, tanah yang ia cintai dan bangun sepenuh jiwa.


Namanya kini diabadikan sebagai salah satu jalan di Palembang bukan sekadar penanda arah, melainkan pengingat bahwa kemajuan kota adalah buah dari pengabdian putra daerahnya.


Sumber: Wikipedia – Achmad Bastari

Tags

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top