JEPARA, suaragardanasional.com | Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, memasuki tahap evaluasi dan penguatan serius. Melalui rapat koordinasi yang digelar di Pendopo Kecamatan Batealit, Rabu (20/5/2026), Satgas MBG bersama Forkopimcam, pengelola dapur MBG, paguyuban BUMDes, UMKM, pihak puskesmas hingga koordinator MBG kabupaten membangun komitmen bersama untuk memperbaiki kualitas layanan sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi lokal.
Rapat yang dipimpin Ketua Satgas MBG Kecamatan Batealit, Suhartoyo, itu mengungkap sejumlah hasil monitoring dan evaluasi lapangan yang telah dilakukan sebanyak tiga kali terhadap dapur MBG dan sekolah penerima manfaat.
Dalam evaluasi tersebut ditemukan beberapa persoalan yang menjadi perhatian bersama, mulai dari kualitas menu makanan, standar sanitasi dapur, porsi makanan, hingga keterlibatan UMKM dan BUMDes lokal dalam rantai pasok kebutuhan dapur MBG.
Suhartoyo menyampaikan bahwa sebagian menu MBG masih dinilai terlalu sederhana sehingga kurang diminati anak-anak. Selain itu, terdapat beberapa dapur yang porsinya dinilai belum memenuhi standar kebutuhan gizi.
“Sebagian besar MBG masih perlu peningkatan standar pelayanan dan kualitas menu,” ujarnya dalam forum evaluasi.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa rapat koordinasi tersebut menjadi langkah penting untuk memperbaiki sistem pelaksanaan MBG agar lebih baik, tepat sasaran, dan mampu memberikan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat.
Selain kualitas menu, aspek sanitasi dapur dan kandungan gizi juga menjadi perhatian serius. Pihak Puskesmas Kecamatan Batealit mengingatkan pentingnya keseimbangan protein hewani, protein nabati, kalori, hingga standar higienitas pengolahan makanan.
Menurut pihak puskesmas, program MBG bukan hanya program jangka pendek, tetapi investasi kesehatan jangka panjang yang harus dijalankan sesuai standar teknis.
“Penyajian makanan harus sesuai juknis dan tidak boleh mengurangi standar kebutuhan gizi penerima manfaat,” tegas pihak puskesmas.
Sorotan lain dalam rapat tersebut adalah perlunya keterlibatan lebih luas UMKM dan BUMDes lokal sebagai pemasok kebutuhan dapur MBG.
Ketua Paguyuban BUMDes Kecamatan Batealit, Samsul, menyampaikan bahwa banyak potensi usaha lokal sebenarnya siap mendukung program MBG, mulai dari peternak telur, peternak ikan, produsen tahu-tempe hingga pelaku usaha pangan lainnya.
Menurutnya, paguyuban BUMDes telah membentuk jaringan UMKM yang siap menyuplai kebutuhan dapur dengan standar kualitas yang dibutuhkan dengan harga sesuai pasar.
“BUMDes ingin bersinergi agar UMKM desa bisa tumbuh bersama program MBG,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Koordinator MBG Kecamatan Batealit, Mukhamad Bahrul Ulum, mendorong agar seluruh UMKM lokal dihimpun dan dikoordinasikan melalui BUMDes sehingga memiliki sistem katalog produk yang jelas dan mudah ditawarkan kepada dapur MBG.
Ia berharap pola tersebut mampu menciptakan pemerataan ekonomi dan mencegah terjadinya ketimpangan dalam rantai pasok kebutuhan dapur.
“Harapannya gizi masyarakat terpenuhi dan ekonomi lokal juga bergerak bersama,” jelasnya.
Sementara itu, Camat Batealit, Yenny Diah Sulistiyani, menegaskan bahwa MBG bukan hanya program pemenuhan gizi untuk anak sekolah saja, ibu hamil juga ibu menyusui tetapi lebih memprioritaskan peningkatan untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa.
Ia meminta seluruh pengelola dapur MBG mulai menggandeng UMKM lokal dan membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan BUMDes di wilayah Kecamatan Batealit.
“Program ini harus memberikan manfaat ganda, yaitu kesehatan gizi si penerima manfaat,ekonomi masyarakat meningkat dan ekonomi desa ikut tumbuh,” tegasnya.
Rapat koordinasi tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk menyamakan persepsi pemberdayaan ekonomi masyarakat dan memperkuat pengawasan, meningkatkan kualitas gizi, menu dan sanitasi dapur, serta memperluas keterlibatan para pelaku UMKM dan BUMDes lokal dalam pelaksanaan program MBG di Kecamatan Batealit.
(Hani K)


