JAKARTA, suaragardanasional.com | 10 Juli 2016. Stand Kabupaten Jepara menjadi salah satu pusat perhatian dalam Festival Olahan Pangan Jawa Tengah 2026 berbahan non-beras dan non-terigu yang berlangsung pada 10–12 Juli 2026 di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.
Mengusung semangat "Jepara Mulus", stand Jepara tampil menonjol dengan memamerkan beragam inovasi pangan lokal, produk unggulan UMKM, kerajinan khas daerah, hingga kekayaan budaya yang mencerminkan kreativitas masyarakat pesisir utara Jawa Tengah.
Sejak hari pertama pelaksanaan, stand Jepara ramai dikunjungi tamu undangan, pelaku usaha, pemerhati UMKM, hingga masyarakat umum. Berbagai produk pangan alternatif berbahan non-beras dan non-terigu menjadi daya tarik tersendiri karena menawarkan cita rasa khas sekaligus mendukung program diversifikasi pangan nasional.
Produk yang dipamerkan antara lain kopi khas Jepara, larutan minuman berbahan tepung garut, keripik singkong aneka rasa, egg roll tape, horog-horog yang merupakan pangan tradisional khas Jepara, hingga berbagai produk olahan hasil pertanian lokal yang telah dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Tidak hanya sektor pangan, stand Jepara juga menampilkan produk unggulan non-kuliner seperti tenun Troso dan berbagai kerajinan tangan (handicraft) yang selama ini telah dikenal hingga pasar nasional dan mancanegara.
Salah satu peserta festival yang mewakili Kabupaten Jepara, Bunda Kartini, menjelaskan bahwa pelaku UMKM Jepara terus berinovasi dalam mengembangkan produk berbasis bahan pangan lokal sebagai alternatif pengganti beras dan terigu.
"UMKM Jepara saat ini tidak hanya berfokus pada produk makanan tradisional, tetapi juga mengembangkan berbagai olahan pangan alternatif yang sehat, bernilai jual tinggi, dan memiliki peluang pasar yang luas. Kami ingin menunjukkan bahwa potensi pangan lokal Jepara sangat besar untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, berbagai hasil pertanian lokal yang selama ini dianggap sederhana kini mampu diolah menjadi produk modern yang memiliki daya saing tinggi. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa UMKM Jepara mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar sekaligus menjaga identitas kuliner daerah.
"Kami berharap melalui festival ini, produk-produk UMKM Jepara semakin dikenal masyarakat Indonesia. Ini bukan sekadar pameran, tetapi kesempatan memperluas jaringan pemasaran, membuka peluang investasi, dan memperkenalkan kekayaan pangan lokal kepada generasi muda," tambah Bunda Kartini.
Festival Olahan Pangan Jawa Tengah 2026 menjadi ajang strategis untuk memperkenalkan kekuatan ekonomi kerakyatan berbasis UMKM. Kehadiran stand Jepara yang menampilkan perpaduan inovasi pangan, produk kreatif, dan warisan budaya membuktikan bahwa daerah ini tidak hanya dikenal sebagai Kota Ukir, tetapi juga memiliki potensi besar dalam pengembangan industri pangan lokal.
Keberhasilan menarik perhatian pengunjung di TMII menjadi sinyal positif bahwa produk-produk UMKM Jepara semakin kompetitif dan siap menembus pasar yang lebih luas. Dari horog-horog hingga tenun Troso, Jepara menunjukkan bahwa kekayaan lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Jepara tidak hanya membawa produk ke TMII, tetapi juga membawa semangat inovasi, kemandirian pangan, dan kebanggaan daerah yang layak menjadi inspirasi masyarakat bagi Indonesia.
(Hani K)


